Horranggenah
Senin, 25 Juli 2016
Dibalik Hutan Bedengan
Namanya Hutan Bedengan. Hutan ini terletak di Desa Genilangit Kecamatan Poncol, lereng Gunung Lawu bagian selatan. Pertama kali aku datang ke tempat ini pada 30 April 2011. Kala itu malam hari, dan hujan deras mengguyur Desa Genilangit sehingga membatalkan rencanaku & rombongan untuk mendaki Gunung Kendil.
Awalnya tanah ini adalah tempat pembibitan pohon mahoni yang dikelola perhutani. Seiring berjalannya waktu karena beberapa hal hak pengelolaan tanah diberikan kepada pihak desa yang kemudian mengubah tempat pembibitan menjadi kebun stroberi. Hal ini tidak berlangsung lama karena biaya perawatan dan hasil yang diperoleh tidak sepadan, sehingga tempat ini kembali dikosongkan dan tidak dirawat.
Dikelilingi oleh punggung pegunungan yang menawan memang sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan. Saat ini dengan bantuan langsung dari Kementerian Pariwisata, Bedengan sedang dalam proses pembangunan menjadi Taman Wisata Air & Outbond.
Tak jauh dari tanah pembibitan memang terdapat hamparan tanah bidang yang cukup luas. Lokasinya sedikit tersembunyi dibatasi pagar duri yang tertutup semak belukar nan tajam. Jajaran pohon pinus yang kokoh menjulang juga menambah nuansa hutan yang kental sehingga tempat ini menjadi tempat favorit beberapa organisasi pecinta alam dari Magetan, Madiun, Ngawi, dan Ponorogo untuk melaksanakan kaderisasi. Diluar itu semua hutan ini juga merupakan tempat favoritku untuk menyendiri.
Aliran mata air yang cukup deras dan kicauan burung adalah suara yang akan didengar ketika mulai memasuki kawasan hutan ini. Kupu-kupu yang cantik juga akan menyambut di musim saat bunga-bunga bersemi. Pohon kopi, stroberi hutan, dan pakis yang sudah berdiri puluhan bahkan mungkin ratusan tahun menjadi kawan yang menemani berdiri. Dan tak lupa pemandangan Puncak Dalang, Kukusan, dan Jobolarangan yang selalu membuat ingin kembali datang.
Terdengar sangat tenang dan damai bukan ???
Harapku ini tidak menjadi sebuah cerita bahkan legenda mengingat pohon-pohon kopi dan sroberi hutan yang habis dibabat bersama pakis-pakis itu. Juga semak belukar yang dipaksa muksa dari tempatnya.
Harapku hutan itu tetap dan selalu menjadi rumah bagi burung-burung, ayam alas, rusa, harimau, dan mereka yang pernah hidup disana. Rumah yang sejuk, asri, damai, dan menenangkan. Begitu pula untukku.
Semarang, 25 Juli 2016
Meita Kumalayanti
#SEASOLDIER.190
Kamis, 11 Juni 2015
GORESAN LELAH
Pagi itu aku mengulang awal yang belum sempat kumulai. Awal yang kutunggu berminggu-minggu hingga bulan-bulan berlalu. Awal yang kuharap dapat semburkan semangat. Awal yang kuharap mampu keringkan cucuran keringat.
SBMPTN.
Beberapa minggu terakhir menjelang diselenggarakannya tes, anganku menangkap sebuah wacana yang sesaat menjadi pencerah harapanku. Entah apa yang membuatku mulai berpikir tentang hal ini, tapi aku merasa tidak salah.
Siang itu berulang-ulang kucoba mengingat lagi. Kilasan kalimat itu semakin nyata dalam pikiranku. Kalian tahu apa itu ?
"Mencerdaskan kehidupan bangsa"
Guruku semasa SMA mengatakan bahwa itu adalah salah satu tujuan bangsa yang tercantum dalam hukum dasar kita, Undang-Undang Dasar 1945.
Sekarang kalian tahu apa yang ada dalam pikiranku ?
Apakah kalian juga masuk ke dalam pemikiranku ?
Dahulu aku berpikir bahwa seseorang yang gagal sebelumnya, dalam hal ini melanjutkan studi, tetapi masih mencoba menempuh jalan yang sama adalah suatu tindakan pemaksaan dan egois. Hari ini aku berpikir betapa primitifnya pemikiranku kala itu. Bagaimana bisa seseorang yang teguh pendirian, yakin, dan sanggup berjuang kusebut egois ? Aku benar-benar merasa miskin.
Setelah bertemu dengan orang-orang bernasib sama denganku dalam sebuah pelarian "terhormat" aku menyadari bahwa passion & talent tak pernah bisa dikurung. Kekang itu pastia akan putus oleh amukan jiwa-jiwa yang haus di tepian arus.
Mimpi-mimpi itu mereka tangguhkan. Harapan itu mereka simpan untuk kemudian dinyalakan. Darah-darah juang itu tidak mengeluh, juga tidak mengalah. Mereka ingin memberi karena ikhlas, bukan karena ingin dibalas. Termasuk aku.
Aku menyadari bahwa aku bukan gadis yang pintar, tapi aku tak ingin berhenti belajar. Orang tuaku bukan orang kaya, tapi aku ingin mengubah nasib mereka. Janji negara akan mencerdaskan kehidupan bangsa telah menyalakan yakinku bahwa negara tak mungkin membodohkan masyarakatnya. Karena kewajiban adalah kewajiban.
Namun kemudian nyala yakinku meredup saat kudengar suara sayup-sayup,
"Apakah suaramu akan didengar ?"
Runtuh.....
Aku tak punyai jawaban. Aku hanya gadis polos yang mencoba bersuara. Dan kuharap kudapati jawabannya.
Terbayang wajah-wajah penuh harapan
Dua pasang mata yang bercucuran keringat setiap harinya
Kulit keriput nan legam yang terpapar panas yang mengganas
Apa yang harus kukatakan pada mereka jika mimpi ini harus kandas ?
Takkan sanggup mata ini menatap wajah lelah itu
Ibu..
Bapak..
Sampai kapan sayap ini harus tertahan tak bisa berkepak ?
Pertiwi..
Apa yang bisa kuberi jika aku tak bisa mengabdi ?
Aku ingin menjadi pemberi, bukan peminta-minta
Aku ingin menjadi pengabdi, bukan pendurhaka
Solo, 11 Juni 2015
Meita Kumalayanti
SBMPTN.
Beberapa minggu terakhir menjelang diselenggarakannya tes, anganku menangkap sebuah wacana yang sesaat menjadi pencerah harapanku. Entah apa yang membuatku mulai berpikir tentang hal ini, tapi aku merasa tidak salah.
Siang itu berulang-ulang kucoba mengingat lagi. Kilasan kalimat itu semakin nyata dalam pikiranku. Kalian tahu apa itu ?
"Mencerdaskan kehidupan bangsa"
Guruku semasa SMA mengatakan bahwa itu adalah salah satu tujuan bangsa yang tercantum dalam hukum dasar kita, Undang-Undang Dasar 1945.
Sekarang kalian tahu apa yang ada dalam pikiranku ?
Apakah kalian juga masuk ke dalam pemikiranku ?
Dahulu aku berpikir bahwa seseorang yang gagal sebelumnya, dalam hal ini melanjutkan studi, tetapi masih mencoba menempuh jalan yang sama adalah suatu tindakan pemaksaan dan egois. Hari ini aku berpikir betapa primitifnya pemikiranku kala itu. Bagaimana bisa seseorang yang teguh pendirian, yakin, dan sanggup berjuang kusebut egois ? Aku benar-benar merasa miskin.
Setelah bertemu dengan orang-orang bernasib sama denganku dalam sebuah pelarian "terhormat" aku menyadari bahwa passion & talent tak pernah bisa dikurung. Kekang itu pastia akan putus oleh amukan jiwa-jiwa yang haus di tepian arus.
Mimpi-mimpi itu mereka tangguhkan. Harapan itu mereka simpan untuk kemudian dinyalakan. Darah-darah juang itu tidak mengeluh, juga tidak mengalah. Mereka ingin memberi karena ikhlas, bukan karena ingin dibalas. Termasuk aku.
Aku menyadari bahwa aku bukan gadis yang pintar, tapi aku tak ingin berhenti belajar. Orang tuaku bukan orang kaya, tapi aku ingin mengubah nasib mereka. Janji negara akan mencerdaskan kehidupan bangsa telah menyalakan yakinku bahwa negara tak mungkin membodohkan masyarakatnya. Karena kewajiban adalah kewajiban.
Namun kemudian nyala yakinku meredup saat kudengar suara sayup-sayup,
"Apakah suaramu akan didengar ?"
Runtuh.....
Aku tak punyai jawaban. Aku hanya gadis polos yang mencoba bersuara. Dan kuharap kudapati jawabannya.
Terbayang wajah-wajah penuh harapan
Dua pasang mata yang bercucuran keringat setiap harinya
Kulit keriput nan legam yang terpapar panas yang mengganas
Apa yang harus kukatakan pada mereka jika mimpi ini harus kandas ?
Takkan sanggup mata ini menatap wajah lelah itu
Ibu..
Bapak..
Sampai kapan sayap ini harus tertahan tak bisa berkepak ?
Pertiwi..
Apa yang bisa kuberi jika aku tak bisa mengabdi ?
Aku ingin menjadi pemberi, bukan peminta-minta
Aku ingin menjadi pengabdi, bukan pendurhaka
Solo, 11 Juni 2015
Meita Kumalayanti
Jumat, 24 April 2015
Halo Gan!!!
Kemarin aku baru aja mengirim naskah cerita dalam lomba yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi jurnalistik. Sayangnya terjadi miskomunikasi. Ketentuan dari pihak penyelenggara 500-1000 karakter, aku kira sama dengan 500-1000 kata. Alhasil ceritaku yang 922 kata itu gak kepake deh.
Nah, daripada mubadzir, cerita wisataku ke salahsatu candi di Jawa Tengah ini aku post aja di satu-satunya blog milikku www.horranggenah.blogspot.com. Here is this :
Kemarin aku baru aja mengirim naskah cerita dalam lomba yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi jurnalistik. Sayangnya terjadi miskomunikasi. Ketentuan dari pihak penyelenggara 500-1000 karakter, aku kira sama dengan 500-1000 kata. Alhasil ceritaku yang 922 kata itu gak kepake deh.
Nah, daripada mubadzir, cerita wisataku ke salahsatu candi di Jawa Tengah ini aku post aja di satu-satunya blog milikku www.horranggenah.blogspot.com. Here is this :
Candi Sukuh,
Erotisme Terbalut Kabut
Saya jatuh cinta pada gunung dan
sangat mencintai gunung. Terlahir di lereng sebuah gunung membuat saya tak
pernah bosan melangkahkan kaki untuk sekedar jalan-jalan dan menikmati suasana
alam ciptaan Tuhan. Sebagai warga sipil
yang tercatat berdomisili tetap di Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur,
menelusuri destinasi wisata di lereng bagian timur Gunung Lawu sudah berulang
kali saya lakukan. Jadi, pada kesempatan ini saya mencoba melebarkan eksplorasi
saya ke lereng bagian barat Gunung Lawu yaitu Candi Sukuh Kabupaten Karanganyar
Provinsi Jawa Tengah.
Bersama dua orang teman perempuan,
saya mengendarai sepeda motor dari Magetan menuju Karanganyar. Ini kunjungan
pertama saya ke Candi Sukuh, kunjungan mendadak tanpa perencanaan dan
pengetahuan dasar. Jalur yang kami
lewati berliku dan menanjak khas jalanan pegunungan. Pemandangan kokohnya pohon
berjajar di kiri dan kanan jalan layaknya pagar yang tinggi menjulang. Beberapa
kali kabut tipis juga turun menyertai perjalanan kami yang menyebabkan tubuh menggigil.
Tidak hanya disuguhi pemandangan
pepohonan yang kokoh terbalut kabut, pedagang kaki lima pun juga turut berjajar
menjajakan dagangannya di beberapa titik. Salah satu titik tersebut adalah di
kawasan perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah yang juga menjadi pintu
gerbang pendakian Gunung Lawu. Banyak pedagang kaki lima maupun warung-warung
yang menjual makanan dan minuman hangat. Jadi bila anda ingin berwisata
melewati kawasan ini tidak perlu khawatir dengan stok konsumsi anda. Selama
kantong anda masih berisi anda dapat membeli makanan maupun minuman dengan
harga yang tergolong murah di kawasan ini.
Dari kawasan perbatasan provinsi
kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 45 menit hingga sampai di loket
masuk kompleks wisata Kemuning. Wisatawan yang hendak masuk diwajibkan membayar karcis sebesar Rp 2.000,00 untuk masing-masing orang.
Di kompleks ini terdapat beberapa obyek wisata seperti Perkebunan Teh Kemuning,
Candi Ceto, Candi Sukuh, Telogo Madirdo, dan beberapa air terjun. Bahkan pada
waktu tertentu setiap tahunnya juga diselenggarakan olahraga paralayang di kawasan ini. Namun, seperti yang telah saya tuliskan
sebelumnya kami mengambil arah menuju Candi Sukuh.
Apabila anda
berangkat dari arah Kota Solo, anda dapat mengikuti plang petunjuk arah menuju
daerah Kemuning. Waktu tempuh yang diperlukan juga hampir sama, yaitu kurang
lebih dua jam hingga sampai di Candi Sukuh.
Dari loket pertama memerlukan
waktu 5 sampai 10 menit untuk sampai di lahan parkir Candi Sukuh. Lahan parkir
yang disediakan bersebelahan dengan lokasi candi dan cukup untuk menampung beberapa
mobil dan sepeda motor, namun tidak cukup luas untuk memarkir bus pariwisata.
Ada juga fasilitas umum lainnya seperti warung makanan, penyewaan ATV, toilet
umum, dan Masjid yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Bila berkenan
membeli oleh-oleh wisatawan juga bisa membeli kerajinan
tangan masyarakat setempat yang dijual di kawasan candi.
Untuk masuk ke pelataran Candi
Sukuh wisatawan diwajibkan membayar tiket sebesar Rp 3.000,00 untuk
masing-masing orang. Bila wisatawan menghendaki penjelasan mengenai relief yang
tergambar di panel candi seorang pemandu wisata juga disediakan,
bahkan satpam penjaga juga dapat membantu memberikan
informasi yang anda butuhkan.
Dari pintu masuk yang akan anda
temui pertama kali adalah papan bertuliskan ulasan mengenai candi. Kemudian
wisatawan akan menemui sebuah gapura beratap yang ditutupi pagar bersebelahan
dengan tangga menuju teras pertama. Di gapura tersebut terdapat beberapa relief
sengkala yang terukir di sisi kiri kanan gapura. Keunikan lain yang bisa
wisatawan temui adalah ukiran sebuah relief menyerupai bentuk lingga dan yoni
di lantai gapura yang dilindungi pagar. Konon relief tersebut dahulu kala
digunakan masyarakat setempat untuk uji keperawanan dan kesetiaan. Namun, saat ini sudah tidak difungsikan
serta dilindungi pagar agar relief tetap terjaga.
Di teras ke dua terdapat tangga
gapura tanpa atap. Bentuknya pun sudah tidak detail. Di sisinya terdapat dua arca
penjaga yang wujudnya juga sudah tidak beraturan. Tidak
banyak arca yang bisa wisatawan temui di teras ini.
Teras ketiga adalah teras yang
paling luas diantara kedua teras lainnya. Di teras ini terdapat bangunan utama
candi dan beberapa patung serta panel. Panel-panel tersebut menceritakan
cuplikan kisah salah seorang anggota pandawa yaitu Sadewa. Seorang satpan yang
memandu wisatawan dan kebetulan saya temui juga menuturkan bahwa candi yang
dikenal dengan relief erotiknya ini menceritakan kehidupan manusia sejak lahir
hingga mati. Selain itu arca dalam jumlah lumayan banyak
juga dapat dilihat di teras ini seperti arca berkepala gajah, tiga buah arca
kura-kura yang besar, dan dua buah arca garuda yang salah satunya memuat
prasasti sukuh.
Candi Sukuh yang merupakan candi
bercorak hindu peninggalan akhir Kerajaan Majapahit ini memiliki bentuk yang
berbeda dengan kebanyakan candi hindu di Indonesia. Hal ini karena bagian atas
candi yang berbentuk datar. Bahkan ada beberapa yang mengatakan bentuk candi
ini menyerupai candi peninggalan Bangsa Maya. Selain bagian atasnya yang datar,
pada bagian tengah candi juga terdapat tangga yang memungkinkan
wisatawan untuk naik ke atas candi. Namun, wisatawan yang diperkenankan menaiki
candi dalam sekali waktu dibatasi tidak boleh melebihi jumlah sepuluh orang. Di atas candi tepatnya di bagian
tengah setelah jalan masuk terdapat sebuah kotak cekung yang didalamnya
berisikan dupa. Dari atas candi ini juga bila cuaca cerah wisatawan dapat
melihat pemandangan Kabupaten Karanganyar dan Kota Solo dari ketinggian.
Setelah puas
menjelajahi wisata sejarah di Candi Sukuh, kami menyempatkan diri singgah ke
Telogo Madirdo yang hanya berjarak tiga kilometer. Selain penasara dengan wujud
telaga yang masih sangat alami ini, kami juga ingin mencoba menemukan jalan
pintas menuju daerah Tawangmangu yang berdekatan dengan lokasi telaga. Memang
benar ada satu jalan pintas yang menghubungkan dua kawasan wisata tersebut.
Terlebih jalan pintas itu berujung tepat di loket masuk wisata Grojogan Sewu.
Sangat tepat bagi wisatawan yang juga hendak berkunjung ke air terjun yang
sangat terkenal ini. Namun, bila anda mengendarai roda empat disarankan tidak
melewati jalanan ini karena sempit. Dan bila anda pengendara roda dua, pastikan
anda sudah berpengalaman melewati tanjakan sempit berliku khas jalan desa di
pegunungan.
Solo, 22 April 2015
Meita Kumalayanti
Maaf lo Gan kalo terkesan nge-spam. Terimakasih sudah mampir & membaca. ^_^
Senin, 09 Maret 2015
Tawa Mereka
There you are..
Aku tertawa bahagia melihat rentetan foto itu. Hingga tanpa
terasa air mataku jatuh begitu saja dan tak kunjung berhenti. Senyuman kalian.
Andai kalian tau betapa aku ingin setidaknya berada di salah satu foto itu
tertawa bersama kalian. Tapi aku disini seorang diri. menangis ditengah gulita
malam.
Aku tak tahu apakah aku yang berlebihan menganggap
pertemanan kita sangat dekat. Tapi jujur, aku sangat ingin keberadaanku
diantara kalian menjadi sebab tawa kalian. Aku ingin ketiadaanku diantara kalian
berbuah kerinduan. Rindu layaknya perasaanku untuk kalian yang tertahan.
Sahabat, entah tiap larik tulisanku terlalu berlebihan..
Entah cukup atau tidak alasanku..
Aku hanya ingin mengatakan aku sayang kalian..
Aku ingin terus bersama kalian..
Dan kuharap jarak ini bukan alasan..
Solo, 9 Maret 2015
Meita Kumalayanti
Kamis, 05 Maret 2015
Palang Kereta
Malam
ini selepas Maghrib kupacu motorku menuju suatu tempat yang menjual nasi
goreng. Ditengah perjalananku aku berhebti didepan sebuah palang kereta api. Ini
pertama kalinya aku berhenti mengendarai didepan palang kereta api selama aku
tinggal di Solo. Aku menyaksikan kereta api melintas dihadapanku. Suara sirene
pintu palang, klakson, dan roda-roda kereta api terdengar sangat jelas dan
dekat, tak seperti yang biasa kudengar ditengah malam ketika aku terbangun
diatas ranjang hangatku. Hal yang selalu mengingatkanku kepada seorang
laki-laki yang pernah meneleponku dari dalam sebuah kereta.
Aku memiliki
harapan suatu saat nanti aku akan bepergian menaiki sebuah kereta. Harapan sederhana
yang belum pernah kulakukan walaupun usiaku hampir genap sembilan belas tahun. Sebuah
harapan yang bagi orang lain hanyalah hal biasa, tapi bagiku suatu hal yang
berharga. Namun entah suatu hari nanti saat aku memutuskan untuk pergi, aku
ragu apakah tempat tujuanku masih sama seperti dahulu. Saat seorang laki-laki
yang berhasil membuatku jatuh cinta pergi menimba ilmu menuju sebuah kota dan
menghilang begitu saja.
Solo, 4 Maret 2015
Meita Kumalayanti
Kamis, 12 Februari 2015
Puisi "Mendua Cinta"
Ibu, mengapa
kita tak pernah sama ?
Mengapa kita
jauh berbeda ?
Tak seperti
teman-teman perempuanku lainnya
Aku ingin
bercerita banyak padamu Bu
Tentang
teman-temanku
Pelajaran yang
sulit kupahami
Tentang
problematika remajaku
Tentang seorang
laki-laki yang tengah dekat denganku
Seperti mereka
Ya, mereka
Mengapa kita
terlalu berbeda, Ibu ?
Aku sangat iri
ketika melihat temanku sekedar berkirim pesan dengan ibunya
Apalagi ketika
mereka dalam masalah dan mengatakan merindukan ibunya
Ibu..
Aku ini seorang
puterimu
Seseorang yang
selalu kau harapkan tumbuh sempurna
Tapi Ibu,
mengapa sempurnamu dan sempurnaku itu
jauh berbeda ?
Ibu..
Aku tak
bermaksud menyalahkanmu
Sama sekali
tidak
Tapi Ibu,
bukankah ibu yang seharusnya menjadikanku sempurna ?
Menemaniku
tumbuh dan mendidikku menjadi seperti yang Ibu mau
Bukankah Ibu
sendiri yang seharusnya menulis kisah yang Ibu inginkan ?
Aku tak tau apa
itu sempurna dimatamu Ibu
Ibu..
Aku tahu peluhmu
yang bercucuran itu untuk menyuapiku nasi
Aku tahu kulitmu
yang legam itu untuk mengantarkanku sekolah
Tapi Ibu, kisah
yang Ibu harapkan itu hanya bisa ditulis olehmu
Tak ada
pelajaran di sekolah yang mengajariku menjadi sempurna seperti yang egkau
harapkan Ibu
Semua yang Ibu
inginkan dariku adalah yang Ibu miliki
Talenta untuk
mendidikku menjadi sempurna seperti yang Ibu harapkan
Ibu.. aku harus
bagaimana ?
Aku tak mungkin
memulai dari nol lagi
Aku takkan bisa
kembali menjadi bayi kecilmu lagi
Sekolah telah
mengajariku berpikir cerdas
Orang-orang
disekelilingku juga mengajariku melihat dari berbagai arah
Pun televisi
mengajariku banyak hal yang tak pernah kutahu
Aku harus
bagaimana Ibu ?
Aku ingin
menjadi sempurna untuk Ibu dan diriku sendiri
Aku ingin Bu..
sungguh
Tapi sempurnamu
itu terbias di cakrawala
Aku yang
menciptakan sempurnaku terlampau silau melihatnya
Ibu..
Harusnya engkau
adalah orang nomer satu dalam hidupku
Tapi Ibu, aku
jatuh hati pada hangatnya pelukan Bapak
Aku telah
melebur dalam wibawa tangannya
Aku terhanyut
dalam lembut tuturnya
Dia yang tak
terlihat tapi selalu menjagaku
Dia yang tak
terdengar tapi selalu mendukungku
Dia yang banyak
kekurangan tapi menopangku saat kekecewaan membuatmu tanpa sadar
menghempaskanku
Aku jatuh cinta
pada peristiwa sederhana bersamanya
Dimana aku tak harus
menjadi sempurna dimatanya
Namun dia selalu
tersenyum dan menatapku dengan bangga
Maafkan aku
telah menduakan cintamu Ibu
Maafkan aku..
16 Januari 2015
Jumat, 06 Februari 2015
Cerpen "BAHASA KALBU"
BAHASA KALBU
Senyumnya bahkan tak tertandingi oleh lentiknya
pucuk cemara yang bergoyang diterpa angin. Duduk tepat dibelakangnya bahkan tak
berani kubayangkan. Tapi dia disini duduk bersamaku, hanya kami berdua.
“Kau menepati janjimu kawan”, gumamku dalam hati
“Hey, jangan melamun”
“Tempat ini sudah tua”, ledeknya membuyarkan lamunanku.
“Kita kemana lagi”
“Tak tau, terserahmu saja”
“Boleh”
Sudah dua tahun lebih aku dan Ari saling
mengenal. Pada awalnya kami sangat dekat, namun karena hal yang tak pernah
kutahu dia tak lagi ingin bersahabat denganku, walaupun aku masih saja menganggapnya
sebagai sahabat.
Aku masih terlalu muda untuk memahami keputusan
Ari kala itu. Kami sangat jarang menjadi akrab setelah keputusan yang diambil
Ari. Kami jarang bertegur sapa. Akrab sesaat, lalu mulai lagi dengan perang
dingin. Hati kami sangat jauh, tak seperti raga kami yang acap kali
berpapasan. Namun pada waktu-waktu akhir aku ingin menjadi sahabatnya dia malah
tersenyum kepadaku dan menyambut dengan hangat.
“Makan dulu yuk ?”
“Aku sudah sarapan. Kau belum ?”
“Sebenarnya sudah”
“Kita langsung menyusul teman-teman ?”
“Hmm..”
Disepanjang perjalanan tak banyak yang dapat
kusampaikan. Aku memiliki perasaan yang dalam kepadanya, namun lidahku selalu
terkunci. Akhirnya kubiarkan angin jalanan menyapu wajahku tanpa ada yang bisa
kuucapkan.
Tibalah kami di bumi perkemahan dimana
kawan-kawanku bercengkerama dan bernostalgia satu sama lain. Aku pun demikian.
Meskipun berada di tempat yang berbeda aku masih bisa mengingat lukisan-lukisan
kenangan bersama Ari kala itu. Kenangan yang hingga detik ini masih kuanggap
sebagai kenagan manis.
Mataku tak hentinya menangkap senyuman
manisnya, telingaku tak kunjung bosan mendengar candanya. Namun tetap saja aku
tak mampu berucap. Walaupun banyak orang mengatakan aku seorang gadis
pemberani, namun kurasa aku bukan gadis sebegitu pemberani dalam hal ini. Aku hanya bisa memandang
senyumnya dengan getir. Hatiku berteriak. Bangaimana mungkin aku bisa mengatakan
tak ingin berteman dengannya, sedangkan dia tak hentinya menyunggingkan senyum.
Putaran waktu akhirnya memanggilku untuk
bernostalgia bersama Ari. Aku berusaha merangkai kata untuk kuucapkan, walaupun
aku juga tahu itu takkan berguna lagi saat mata kami sudah saling menatap.
“Ri..”
“Apa May
?”
“I miss you”
“I miss you”
Kulihat senyum di wajahnya memudar, berganti seraut wajah penuh
kegelisahan. Kali ini aku bisa memahami keadaannya, karena aku tahu didalam
hatinya tersimpan sebuah nama. Sebuah nama yang indah dengan setiap detail suku
katanya.
Cukup lama kami terdiam seolah membeku. Aku
menatap kosong. Sekilas kulihat kepala Ari menunduk.
“Kuanggap apa yang baru saja kau ucapkan itu adalah antara adik dan
kakak”
Suaranya yang lembut itu terdengar menyerupai guruh di telingaku.
Air mata yang coba kutahan pun mengalir begitu saja melintasi pipiku.
“Tinggal menghitung hari, janjiku padamu tunai”
Mata teduhnya itu kutangkap dalam pandanganku.
“Janji apa May ?”
“Bila waktunya tiba, kau akan tahu”
Kakiku kugerakkan menjauh dari Ari. Hari itu, hari dimana merahnya
senja mengakhiri kehangatan dan menggantikannya dengan dingin bermandikan
cahaya bulan. Hari dimana aku dan Ari tak lagi saling menyapa.
***
Ditengah riuhnya gelak tawa di sekelilingku,
mataku menangkap sosok Ari yang duduk tepat didepanku. Sudah empat minggu kami
tidak saling menyapa. Hanya saja sesekali kami menangkap pandangan satu sama
lain tanpa mengeluarkan sepatah kata. Saat itulah kemudian aku mulai memikirkan
persahabatan kami. Persahabatan yang kubungkus dengan cinta, atau malah
sebenarnya permusuhan berbungkus kasih sayang. Entahlah, perasaanku tak pernah
bisa berdamai dengan akalku bila berdebat tentang hal ini. Disatu sisi Ari
selalu menjadi alasan bagiku untuk terus memperbaiki diri, namun disisi lain
perang dingin yang kerap kali kami jalani tak henti memaksaku menyerah dengan
keadaan. Akhirnya aku memilih melepaskan perasaan sayang, perasaan rindu, dan
berhenti untuk mengingatnya.
***
72, 48, 24, 0
Waktu terasa cepat berlalu. Hari yang kutunggu
akhirnya datang menyapaku. Perpisahan sekolah, hari dimana aku akan menunaikan
janjiku pada Ari.
Hari ini aku sangat sering berpapasan dengan
Ari. Namun pada saat mata kami saling menatap, saat itulah seketika kami
berpaling dan memutar arah, berjalan saling menjauh. Keraguan dalam benakku
terus mengusik setiap kata yang kurangkai saat aku berpapasan dengan Ari atau
saat tanpa sengaja tangan kami saling bersentuhan.
“Benarkah aku akan mengusiknya dengan kata-kataku ?”
“Benarkah aku akan mengganggu ketenangannya ?”
Jauh didalam hatiku aku tak ingin melakukannya.
Namun aku juga tak ingin terus menerus terpenjara didalam kesedihan. Akhirnya
kuputuskan untuk menulis sebuah surat. Entah apa yang ada dalam benaknya, tapi
setidaknya aku harus berbicara melalui kata-kata.
Magetan,
26 Mei 2014
Hai kawan,
Lama tak saling menyapa. Apa
kabarmu disana ?
Maaf, walaupun mataku masih
bisa menangkap kehadiranmu aku tak bisa lagi memanggil namamu.
Lewat sepucuk surat ini ingin
kusampaikan salamku, salam rindu untuk yang terakhir kalinya. Juga ucapan
terimakasih sedalam-dalamnya dariku untukmu yang telah menemaniku berdiri dan
berjalan dengan tegar hingga akhirnya 3 tahun berlalu.
Ditengah perjalananku pernah
terbesit dalam anganku tak bisa melakukannya saat dua tahun yang lalu kau
mengatakan :
“May, Ibu Endang menasihatiku
jangan pacaran dulu sewaktu SMA. Tunggu hingga kuliah nanti.”
Aku tak pernah mengira bisa menunaikannya. Janjiku padamu.
Disinilah tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormatku kuucapkan
terimakasih karena telah memberiku alasan untuk tetap menutup pintu dan terus
belajar tanpa menyerah.
Dari katamu yang sederhana aku belajar mengeja, dari senyummu yang
sederhana aku belajar menuliskan cerita. Semua begitu berarti.
Dan disini pula lah ingin kusampaikan permintaan maafku karena tak
sanggup berjanji ketika kau mengatakan :
“May, kamu jangan pacaran”
“Kenapa ?”
“Pacaran itu gak enak”
---- Selesai ----
Alhamdulillah cerpen ini masuk 25 Finalis Lomba Menulis Cerpen kategori Pelajar tingkat Nasional. Terimakasih sudah menyempatkan mampir membaca tulisan saya. Besar harapan saya untuk menerima kritik dan saran dari pembaca agar kedepannya lebih baik lagi.
Salam hangat,
Meita Kumalayanti
Langganan:
Komentar (Atom)



