Senin, 25 Juli 2016


Dibalik Hutan Bedengan




Namanya Hutan Bedengan. Hutan ini terletak di Desa Genilangit Kecamatan Poncol, lereng Gunung Lawu bagian selatan. Pertama kali aku datang ke tempat ini pada 30 April 2011. Kala itu malam hari, dan hujan deras mengguyur Desa Genilangit sehingga membatalkan rencanaku & rombongan untuk mendaki Gunung Kendil.
Awalnya tanah ini adalah tempat pembibitan pohon mahoni yang dikelola perhutani. Seiring berjalannya waktu karena beberapa hal hak pengelolaan tanah diberikan kepada pihak desa yang kemudian mengubah tempat pembibitan menjadi kebun stroberi. Hal ini tidak berlangsung lama karena biaya perawatan dan hasil yang diperoleh tidak sepadan, sehingga tempat ini kembali dikosongkan dan tidak dirawat.
Dikelilingi oleh punggung pegunungan yang menawan memang sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan. Saat ini dengan bantuan langsung dari Kementerian Pariwisata, Bedengan sedang dalam proses pembangunan menjadi Taman Wisata Air & Outbond.
Tak jauh dari tanah pembibitan memang terdapat hamparan tanah bidang yang cukup luas. Lokasinya sedikit tersembunyi dibatasi pagar duri yang tertutup semak belukar nan tajam. Jajaran pohon pinus yang kokoh menjulang juga menambah nuansa hutan yang kental sehingga tempat ini menjadi tempat favorit beberapa organisasi pecinta alam dari Magetan, Madiun, Ngawi, dan Ponorogo untuk melaksanakan kaderisasi. Diluar itu semua hutan ini juga merupakan tempat favoritku untuk menyendiri.
Aliran mata air yang cukup deras dan kicauan burung adalah suara yang akan didengar ketika mulai memasuki kawasan hutan ini. Kupu-kupu yang cantik juga akan menyambut di musim saat bunga-bunga bersemi. Pohon kopi, stroberi hutan, dan pakis yang sudah berdiri puluhan bahkan mungkin ratusan tahun menjadi kawan yang menemani berdiri. Dan tak lupa pemandangan Puncak Dalang, Kukusan, dan Jobolarangan yang selalu membuat ingin kembali datang.
Terdengar sangat tenang dan damai bukan ???
Harapku ini tidak menjadi sebuah cerita bahkan legenda mengingat pohon-pohon kopi dan sroberi hutan yang habis dibabat bersama pakis-pakis itu. Juga semak belukar yang dipaksa muksa dari tempatnya.
Harapku hutan itu tetap dan selalu menjadi rumah bagi burung-burung, ayam alas, rusa, harimau, dan mereka yang pernah hidup disana. Rumah yang sejuk, asri, damai, dan menenangkan. Begitu pula untukku.


Semarang, 25 Juli 2016
Meita Kumalayanti




#SEASOLDIER.190

Kamis, 11 Juni 2015

GORESAN LELAH

Pagi itu aku mengulang awal yang belum sempat kumulai. Awal yang kutunggu berminggu-minggu hingga bulan-bulan berlalu. Awal yang kuharap dapat semburkan semangat. Awal yang kuharap mampu keringkan cucuran keringat.
SBMPTN.


Beberapa minggu terakhir menjelang diselenggarakannya tes, anganku menangkap sebuah wacana yang sesaat menjadi pencerah harapanku. Entah apa yang membuatku mulai berpikir tentang hal ini, tapi aku merasa tidak salah.


Siang itu berulang-ulang kucoba mengingat lagi. Kilasan kalimat itu semakin nyata dalam pikiranku. Kalian tahu apa itu ?
"Mencerdaskan kehidupan bangsa"
Guruku semasa SMA mengatakan bahwa itu adalah salah satu tujuan bangsa yang tercantum dalam hukum dasar kita, Undang-Undang Dasar 1945.
Sekarang kalian tahu apa yang ada dalam pikiranku ?
Apakah kalian juga masuk ke dalam pemikiranku ?


Dahulu aku berpikir bahwa seseorang yang gagal sebelumnya, dalam hal ini melanjutkan studi, tetapi masih mencoba menempuh jalan yang sama adalah suatu tindakan pemaksaan dan egois. Hari ini aku berpikir betapa primitifnya pemikiranku kala itu. Bagaimana bisa seseorang yang teguh pendirian, yakin, dan sanggup berjuang kusebut egois ? Aku benar-benar merasa miskin.


Setelah bertemu dengan orang-orang bernasib sama denganku dalam sebuah pelarian "terhormat" aku menyadari bahwa passion & talent tak pernah bisa dikurung. Kekang itu pastia akan putus oleh amukan jiwa-jiwa yang haus di tepian arus.


Mimpi-mimpi itu mereka tangguhkan. Harapan itu mereka simpan untuk kemudian dinyalakan. Darah-darah juang itu tidak mengeluh, juga tidak mengalah. Mereka ingin memberi karena ikhlas, bukan karena ingin dibalas. Termasuk aku.


Aku menyadari bahwa aku bukan gadis yang pintar, tapi aku tak ingin berhenti belajar. Orang tuaku bukan orang kaya, tapi aku ingin mengubah nasib mereka. Janji negara akan mencerdaskan kehidupan bangsa telah menyalakan yakinku bahwa negara tak mungkin membodohkan masyarakatnya. Karena kewajiban adalah kewajiban.


Namun kemudian nyala yakinku meredup saat kudengar suara sayup-sayup,
"Apakah suaramu akan didengar ?"

Runtuh.....




Aku tak punyai jawaban. Aku hanya gadis polos yang mencoba bersuara. Dan kuharap kudapati jawabannya.





Terbayang wajah-wajah penuh harapan
Dua pasang mata yang bercucuran keringat setiap harinya
Kulit keriput nan legam yang terpapar panas yang mengganas
Apa yang harus kukatakan pada mereka jika mimpi ini harus kandas ?
Takkan sanggup mata ini menatap wajah lelah itu
Ibu..
Bapak..
Sampai kapan sayap ini harus tertahan tak bisa berkepak ?
Pertiwi..
Apa yang bisa kuberi jika aku tak bisa mengabdi ?
Aku ingin menjadi pemberi, bukan peminta-minta
Aku ingin menjadi pengabdi, bukan pendurhaka




Solo, 11 Juni 2015
Meita Kumalayanti

Jumat, 24 April 2015

Halo Gan!!!
Kemarin aku baru aja mengirim naskah cerita dalam lomba yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi jurnalistik. Sayangnya terjadi miskomunikasi. Ketentuan dari pihak penyelenggara 500-1000 karakter, aku kira sama dengan 500-1000 kata. Alhasil ceritaku yang 922 kata itu gak kepake deh.
Nah, daripada mubadzir, cerita wisataku ke salahsatu candi di Jawa Tengah ini aku post aja di satu-satunya blog milikku www.horranggenah.blogspot.com. Here is this :




Candi Sukuh, Erotisme Terbalut Kabut

Saya jatuh cinta pada gunung dan sangat mencintai gunung. Terlahir di lereng sebuah gunung membuat saya tak pernah bosan melangkahkan kaki untuk sekedar jalan-jalan dan menikmati suasana alam ciptaan  Tuhan. Sebagai warga sipil yang tercatat berdomisili tetap di Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur, menelusuri destinasi wisata di lereng bagian timur Gunung Lawu sudah berulang kali saya lakukan. Jadi, pada kesempatan ini saya mencoba melebarkan eksplorasi saya ke lereng bagian barat Gunung Lawu yaitu Candi Sukuh Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah.
Bersama dua orang teman perempuan, saya mengendarai sepeda motor dari Magetan menuju Karanganyar. Ini kunjungan pertama saya ke Candi Sukuh, kunjungan mendadak tanpa perencanaan dan pengetahuan dasar.  Jalur yang kami lewati berliku dan menanjak khas jalanan pegunungan. Pemandangan kokohnya pohon berjajar di kiri dan kanan jalan layaknya pagar yang tinggi menjulang. Beberapa kali kabut tipis juga turun menyertai perjalanan kami yang menyebabkan tubuh menggigil. 
Tidak hanya disuguhi pemandangan pepohonan yang kokoh terbalut kabut, pedagang kaki lima pun juga turut berjajar menjajakan dagangannya di beberapa titik. Salah satu titik tersebut adalah di kawasan perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah yang juga menjadi pintu gerbang pendakian Gunung Lawu. Banyak pedagang kaki lima maupun warung-warung yang menjual makanan dan minuman hangat. Jadi bila anda ingin berwisata melewati kawasan ini tidak perlu khawatir dengan stok konsumsi anda. Selama kantong anda masih berisi anda dapat membeli makanan maupun minuman dengan harga yang tergolong murah di kawasan ini.
Dari kawasan perbatasan provinsi kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 45 menit hingga sampai di loket masuk kompleks wisata Kemuning. Wisatawan yang hendak masuk diwajibkan membayar karcis sebesar Rp 2.000,00 untuk masing-masing orang. Di kompleks ini terdapat beberapa obyek wisata seperti Perkebunan Teh Kemuning, Candi Ceto, Candi Sukuh, Telogo Madirdo, dan beberapa air terjun. Bahkan pada waktu tertentu setiap tahunnya juga diselenggarakan olahraga paralayang di kawasan ini. Namun, seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya kami mengambil arah menuju Candi Sukuh.
Apabila anda berangkat dari arah Kota Solo, anda dapat mengikuti plang petunjuk arah menuju daerah Kemuning. Waktu tempuh yang diperlukan juga hampir sama, yaitu kurang lebih dua jam hingga sampai di Candi Sukuh.
Dari loket pertama memerlukan waktu 5 sampai 10 menit untuk sampai di lahan parkir Candi Sukuh. Lahan parkir yang disediakan bersebelahan dengan lokasi candi dan cukup untuk menampung beberapa mobil dan sepeda motor, namun tidak cukup luas untuk memarkir bus pariwisata. Ada juga fasilitas umum lainnya seperti warung makanan, penyewaan ATV, toilet umum, dan Masjid yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Bila berkenan membeli oleh-oleh wisatawan juga bisa membeli kerajinan tangan masyarakat setempat yang dijual di kawasan candi.
Untuk masuk ke pelataran Candi Sukuh wisatawan diwajibkan membayar tiket sebesar Rp 3.000,00 untuk masing-masing orang. Bila wisatawan menghendaki penjelasan mengenai relief yang tergambar di panel candi seorang pemandu wisata juga disediakan, bahkan satpam penjaga juga dapat membantu memberikan informasi yang anda butuhkan.
Dari pintu masuk yang akan anda temui pertama kali adalah papan bertuliskan ulasan mengenai candi. Kemudian wisatawan akan menemui sebuah gapura beratap yang ditutupi pagar bersebelahan dengan tangga menuju teras pertama. Di gapura tersebut terdapat beberapa relief sengkala yang terukir di sisi kiri kanan gapura. Keunikan lain yang bisa wisatawan temui adalah ukiran sebuah relief menyerupai bentuk lingga dan yoni di lantai gapura yang dilindungi pagar. Konon relief tersebut dahulu kala digunakan masyarakat setempat untuk uji keperawanan dan kesetiaan. Namun, saat ini sudah tidak difungsikan serta dilindungi pagar agar relief tetap terjaga.
Di teras ke dua terdapat tangga gapura tanpa atap. Bentuknya pun sudah tidak detail. Di sisinya terdapat dua arca penjaga yang wujudnya juga sudah tidak beraturan. Tidak banyak arca yang bisa wisatawan temui di teras ini.
Teras ketiga adalah teras yang paling luas diantara kedua teras lainnya. Di teras ini terdapat bangunan utama candi dan beberapa patung serta panel. Panel-panel tersebut menceritakan cuplikan kisah salah seorang anggota pandawa yaitu Sadewa. Seorang satpan yang memandu wisatawan dan kebetulan saya temui juga menuturkan bahwa candi yang dikenal dengan relief erotiknya ini menceritakan kehidupan manusia sejak lahir hingga mati. Selain itu arca dalam jumlah lumayan banyak juga dapat dilihat di teras ini seperti arca berkepala gajah, tiga buah arca kura-kura yang besar, dan dua buah arca garuda yang salah satunya memuat prasasti sukuh.
Candi Sukuh yang merupakan candi bercorak hindu peninggalan akhir Kerajaan Majapahit ini memiliki bentuk yang berbeda dengan kebanyakan candi hindu di Indonesia. Hal ini karena bagian atas candi yang berbentuk datar. Bahkan ada beberapa yang mengatakan bentuk candi ini menyerupai candi peninggalan Bangsa Maya. Selain bagian atasnya yang datar, pada bagian tengah candi juga terdapat tangga yang memungkinkan wisatawan untuk naik ke atas candi. Namun, wisatawan yang diperkenankan menaiki candi dalam sekali waktu dibatasi tidak boleh melebihi jumlah sepuluh orang. Di atas candi tepatnya di bagian tengah setelah jalan masuk terdapat sebuah kotak cekung yang didalamnya berisikan dupa. Dari atas candi ini juga bila cuaca cerah wisatawan dapat melihat pemandangan Kabupaten Karanganyar dan Kota Solo dari ketinggian.
Setelah puas menjelajahi wisata sejarah di Candi Sukuh, kami menyempatkan diri singgah ke Telogo Madirdo yang hanya berjarak tiga kilometer. Selain penasara dengan wujud telaga yang masih sangat alami ini, kami juga ingin mencoba menemukan jalan pintas menuju daerah Tawangmangu yang berdekatan dengan lokasi telaga. Memang benar ada satu jalan pintas yang menghubungkan dua kawasan wisata tersebut. Terlebih jalan pintas itu berujung tepat di loket masuk wisata Grojogan Sewu. Sangat tepat bagi wisatawan yang juga hendak berkunjung ke air terjun yang sangat terkenal ini. Namun, bila anda mengendarai roda empat disarankan tidak melewati jalanan ini karena sempit. Dan bila anda pengendara roda dua, pastikan anda sudah berpengalaman melewati tanjakan sempit berliku khas jalan desa di pegunungan.

Solo, 22 April 2015
Meita Kumalayanti

Maaf lo Gan kalo terkesan nge-spam. Terimakasih sudah mampir & membaca. ^_^

Senin, 09 Maret 2015

Tawa Mereka

There you are..
Aku tertawa bahagia melihat rentetan foto itu. Hingga tanpa terasa air mataku jatuh begitu saja dan tak kunjung berhenti. Senyuman kalian. Andai kalian tau betapa aku ingin setidaknya berada di salah satu foto itu tertawa bersama kalian. Tapi aku disini seorang diri. menangis ditengah gulita malam.
Aku tak tahu apakah aku yang berlebihan menganggap pertemanan kita sangat dekat. Tapi jujur, aku sangat ingin keberadaanku diantara kalian menjadi sebab tawa kalian. Aku ingin ketiadaanku diantara kalian berbuah kerinduan. Rindu layaknya perasaanku untuk kalian yang tertahan.

Sahabat, entah tiap larik tulisanku terlalu berlebihan..
Entah cukup atau tidak alasanku..
Aku hanya ingin mengatakan aku sayang kalian..
Aku ingin terus bersama kalian..
Dan kuharap jarak ini bukan alasan..


Solo, 9 Maret 2015
Meita Kumalayanti


Kamis, 05 Maret 2015

Palang Kereta


Malam ini selepas Maghrib kupacu motorku menuju suatu tempat yang menjual nasi goreng. Ditengah perjalananku aku berhebti didepan sebuah palang kereta api. Ini pertama kalinya aku berhenti mengendarai didepan palang kereta api selama aku tinggal di Solo. Aku menyaksikan kereta api melintas dihadapanku. Suara sirene pintu palang, klakson, dan roda-roda kereta api terdengar sangat jelas dan dekat, tak seperti yang biasa kudengar ditengah malam ketika aku terbangun diatas ranjang hangatku. Hal yang selalu mengingatkanku kepada seorang laki-laki yang pernah meneleponku dari dalam sebuah kereta.
Aku memiliki harapan suatu saat nanti aku akan bepergian menaiki sebuah kereta. Harapan sederhana yang belum pernah kulakukan walaupun usiaku hampir genap sembilan belas tahun. Sebuah harapan yang bagi orang lain hanyalah hal biasa, tapi bagiku suatu hal yang berharga. Namun entah suatu hari nanti saat aku memutuskan untuk pergi, aku ragu apakah tempat tujuanku masih sama seperti dahulu. Saat seorang laki-laki yang berhasil membuatku jatuh cinta pergi menimba ilmu menuju sebuah kota dan menghilang begitu saja.


Solo, 4 Maret 2015
Meita Kumalayanti

Kamis, 12 Februari 2015

Puisi "Mendua Cinta"

Ibu, mengapa kita tak pernah sama ?
Mengapa kita jauh berbeda ?
Tak seperti teman-teman perempuanku lainnya

Aku ingin bercerita banyak padamu Bu
Tentang teman-temanku
Pelajaran yang sulit kupahami
Tentang problematika remajaku
Tentang seorang laki-laki yang tengah dekat denganku
Seperti mereka
Ya, mereka

Mengapa kita terlalu berbeda, Ibu ?
Aku sangat iri ketika melihat temanku sekedar berkirim pesan dengan ibunya
Apalagi ketika mereka dalam masalah dan mengatakan merindukan ibunya

Ibu..
Aku ini seorang puterimu
Seseorang yang selalu kau harapkan tumbuh sempurna
Tapi Ibu, mengapa sempurnamu dan sempurnaku  itu jauh berbeda ?

Ibu..
Aku tak bermaksud menyalahkanmu
Sama sekali tidak
Tapi Ibu, bukankah ibu yang seharusnya menjadikanku sempurna ?
Menemaniku tumbuh dan mendidikku menjadi seperti yang Ibu mau
Bukankah Ibu sendiri yang seharusnya menulis kisah yang Ibu inginkan ?
Aku tak tau apa itu sempurna dimatamu Ibu

Ibu..
Aku tahu peluhmu yang bercucuran itu untuk menyuapiku nasi
Aku tahu kulitmu yang legam itu untuk mengantarkanku sekolah
Tapi Ibu, kisah yang Ibu harapkan itu hanya bisa ditulis olehmu
Tak ada pelajaran di sekolah yang mengajariku menjadi sempurna seperti yang egkau harapkan Ibu
Semua yang Ibu inginkan dariku adalah yang Ibu miliki
Talenta untuk mendidikku menjadi sempurna seperti yang Ibu harapkan

Ibu.. aku harus bagaimana ?
Aku tak mungkin memulai dari nol lagi
Aku takkan bisa kembali menjadi bayi kecilmu lagi
Sekolah telah mengajariku berpikir cerdas
Orang-orang disekelilingku juga mengajariku melihat dari berbagai arah
Pun televisi mengajariku banyak hal yang tak pernah kutahu

Aku harus bagaimana Ibu ?
Aku ingin menjadi sempurna untuk Ibu dan diriku sendiri
Aku ingin Bu.. sungguh
Tapi sempurnamu itu terbias di cakrawala
Aku yang menciptakan sempurnaku terlampau silau melihatnya

Ibu..
Harusnya engkau adalah orang nomer satu dalam hidupku
Tapi Ibu, aku jatuh hati pada hangatnya pelukan Bapak
Aku telah melebur dalam wibawa tangannya
Aku terhanyut dalam lembut tuturnya
Dia yang tak terlihat tapi selalu menjagaku
Dia yang tak terdengar tapi selalu mendukungku
Dia yang banyak kekurangan tapi menopangku saat kekecewaan membuatmu tanpa sadar menghempaskanku

Aku jatuh cinta pada peristiwa sederhana bersamanya
Dimana aku tak harus menjadi sempurna dimatanya
Namun dia selalu tersenyum dan menatapku dengan bangga

Maafkan aku telah menduakan cintamu Ibu
Maafkan aku..



16 Januari 2015

Jumat, 06 Februari 2015

Cerpen "BAHASA KALBU"


BAHASA KALBU
Senyumnya bahkan tak tertandingi oleh lentiknya pucuk cemara yang bergoyang diterpa angin. Duduk tepat dibelakangnya bahkan tak berani kubayangkan. Tapi dia disini duduk bersamaku, hanya kami berdua.
“Kau menepati janjimu kawan”, gumamku dalam hati
“Hey, jangan melamun”
“Tempat ini sudah tua”, ledeknya membuyarkan lamunanku.
“Kita kemana lagi”
“Tak tau, terserahmu saja”
“Boleh”
Sudah dua tahun lebih aku dan Ari saling mengenal. Pada awalnya kami sangat dekat, namun karena hal yang tak pernah kutahu dia tak lagi ingin bersahabat denganku, walaupun aku masih saja menganggapnya sebagai sahabat.
Aku masih terlalu muda untuk memahami keputusan Ari kala itu. Kami sangat jarang menjadi akrab setelah keputusan yang diambil Ari. Kami jarang bertegur sapa. Akrab sesaat, lalu mulai lagi dengan perang dingin. Hati kami sangat jauh, tak seperti raga kami yang acap kali berpapasan. Namun pada waktu-waktu akhir aku ingin menjadi sahabatnya dia malah tersenyum kepadaku dan menyambut dengan hangat.
“Makan dulu yuk ?”
“Aku sudah sarapan. Kau belum ?”
“Sebenarnya sudah”
“Kita langsung menyusul teman-teman ?”
“Hmm..”
Disepanjang perjalanan tak banyak yang dapat kusampaikan. Aku memiliki perasaan yang dalam kepadanya, namun lidahku selalu terkunci. Akhirnya kubiarkan angin jalanan menyapu wajahku tanpa ada yang bisa kuucapkan.
Tibalah kami di bumi perkemahan dimana kawan-kawanku bercengkerama dan bernostalgia satu sama lain. Aku pun demikian. Meskipun berada di tempat yang berbeda aku masih bisa mengingat lukisan-lukisan kenangan bersama Ari kala itu. Kenangan yang hingga detik ini masih kuanggap sebagai kenagan manis.
Mataku tak hentinya menangkap senyuman manisnya, telingaku tak kunjung bosan mendengar candanya. Namun tetap saja aku tak mampu berucap. Walaupun banyak orang mengatakan aku seorang gadis pemberani, namun kurasa aku bukan gadis sebegitu pemberani  dalam hal ini. Aku hanya bisa memandang senyumnya dengan getir. Hatiku berteriak. Bangaimana mungkin aku bisa mengatakan tak ingin berteman dengannya, sedangkan dia tak hentinya menyunggingkan senyum.
Putaran waktu akhirnya memanggilku untuk bernostalgia bersama Ari. Aku berusaha merangkai kata untuk kuucapkan, walaupun aku juga tahu itu takkan berguna lagi saat mata kami sudah saling menatap.
“Ri..”
“Apa May ?”
“I miss you”
Kulihat senyum di wajahnya memudar, berganti seraut wajah penuh kegelisahan. Kali ini aku bisa memahami keadaannya, karena aku tahu didalam hatinya tersimpan sebuah nama. Sebuah nama yang indah dengan setiap detail suku katanya.
Cukup lama kami terdiam seolah membeku. Aku menatap kosong. Sekilas kulihat kepala Ari menunduk.
“Kuanggap apa yang baru saja kau ucapkan itu adalah antara adik dan kakak”
Suaranya yang lembut itu terdengar menyerupai guruh di telingaku. Air mata yang coba kutahan pun mengalir begitu saja melintasi pipiku.
“Tinggal menghitung hari, janjiku padamu tunai”
Mata teduhnya itu kutangkap dalam pandanganku.
“Janji apa May ?”
“Bila waktunya tiba, kau akan tahu”
Kakiku kugerakkan menjauh dari Ari. Hari itu, hari dimana merahnya senja mengakhiri kehangatan dan menggantikannya dengan dingin bermandikan cahaya bulan. Hari dimana aku dan Ari tak lagi saling menyapa.
***
Ditengah riuhnya gelak tawa di sekelilingku, mataku menangkap sosok Ari yang duduk tepat didepanku. Sudah empat minggu kami tidak saling menyapa. Hanya saja sesekali kami menangkap pandangan satu sama lain tanpa mengeluarkan sepatah kata. Saat itulah kemudian aku mulai memikirkan persahabatan kami. Persahabatan yang kubungkus dengan cinta, atau malah sebenarnya permusuhan berbungkus kasih sayang. Entahlah, perasaanku tak pernah bisa berdamai dengan akalku bila berdebat tentang hal ini. Disatu sisi Ari selalu menjadi alasan bagiku untuk terus memperbaiki diri, namun disisi lain perang dingin yang kerap kali kami jalani tak henti memaksaku menyerah dengan keadaan. Akhirnya aku memilih melepaskan perasaan sayang, perasaan rindu, dan berhenti untuk mengingatnya.
***
72, 48, 24, 0
Waktu terasa cepat berlalu. Hari yang kutunggu akhirnya datang menyapaku. Perpisahan sekolah, hari dimana aku akan menunaikan janjiku pada Ari.
Hari ini aku sangat sering berpapasan dengan Ari. Namun pada saat mata kami saling menatap, saat itulah seketika kami berpaling dan memutar arah, berjalan saling menjauh. Keraguan dalam benakku terus mengusik setiap kata yang kurangkai saat aku berpapasan dengan Ari atau saat tanpa sengaja tangan kami saling bersentuhan.
“Benarkah aku akan mengusiknya dengan kata-kataku ?”
“Benarkah aku akan mengganggu ketenangannya ?”
Jauh didalam hatiku aku tak ingin melakukannya. Namun aku juga tak ingin terus menerus terpenjara didalam kesedihan. Akhirnya kuputuskan untuk menulis sebuah surat. Entah apa yang ada dalam benaknya, tapi setidaknya aku harus berbicara melalui kata-kata.
Magetan, 26 Mei 2014
Hai kawan,
Lama tak saling menyapa. Apa kabarmu disana ?
Maaf, walaupun mataku masih bisa menangkap kehadiranmu aku tak bisa lagi memanggil namamu.
Lewat sepucuk surat ini ingin kusampaikan salamku, salam rindu untuk yang terakhir kalinya. Juga ucapan terimakasih sedalam-dalamnya dariku untukmu yang telah menemaniku berdiri dan berjalan dengan tegar hingga akhirnya 3 tahun berlalu.
Ditengah perjalananku pernah terbesit dalam anganku tak bisa melakukannya saat dua tahun yang lalu kau mengatakan :
“May, Ibu Endang menasihatiku jangan pacaran dulu sewaktu SMA. Tunggu hingga kuliah nanti.”
Aku tak pernah mengira bisa menunaikannya. Janjiku padamu.
Disinilah tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormatku kuucapkan terimakasih karena telah memberiku alasan untuk tetap menutup pintu dan terus belajar tanpa menyerah.
Dari katamu yang sederhana aku belajar mengeja, dari senyummu yang sederhana aku belajar menuliskan cerita. Semua begitu berarti.
Dan disini pula lah ingin kusampaikan permintaan maafku karena tak sanggup berjanji ketika kau mengatakan :
“May, kamu jangan pacaran”
“Kenapa ?”
“Pacaran itu gak enak”
---- Selesai ----

Alhamdulillah cerpen ini masuk 25 Finalis Lomba Menulis Cerpen kategori Pelajar tingkat Nasional. Terimakasih sudah menyempatkan mampir membaca tulisan saya. Besar harapan saya untuk menerima kritik dan saran dari pembaca agar kedepannya lebih baik lagi.
Salam hangat,
Meita Kumalayanti